Senin, 13 Juni 2016

cerpen cinta berakhir ditakdir

Cinta Berakhir diTakdir

 Kurebah tubuh  diatas kasur yang telah lama aku tinggali, aku melirik jam dinding bunga-bunga tepat dihadapan, pikirannya melayang, mengingat  berapa lama dia meninggalkan kamarnya ini, ku lirik dinding tertempel sebuah figura yang menampilkan seorang gadis dan laki-laki saling merangkul , mereka tersenyum betapa bahagianya saat itu. Namun sekarang senyum tersebut membuka luka lama yang sempat tersimpan rapi. Dan anganku melayang peristiwa 2 tahun yang lalu.

2 tahun sebelumnya
         Namaku Raina Anastasya Wijaya hidupku serba kecukupan, dengan fasilitas yang super mewah. Kini berbanding terbalik karena semua fasilitas dan keperluanku dibatasi oleh ayahku yaitu Rendi Abimanyu Wijaya. Ayah bilang selama ini hidupku untuk bersenang-senang tidak memikirkan masa depan.
            Ayah mengatakan akan mengembalikan semua fasilitasku setelah aku menyelesaikan kuliah dan hidup mandiri. Dari semua tindakan ayah yang lebih membuatku kesal yaitu ayah mengirimku ke Jogyakarta untk melanjutkan kuliahku, dengan harapan aku bisa hidup mandiri tidak mengandalkan kekayaan orang tua.
            Aku berlari karena pesawat yang akan membawaku ke yogja 10 menit lagi akan take off.
“ah, gara-gara semalam masih debat dengan ayah, jadi telat nih” teriakku sambil menyeret koper
Dengan tenaga yang masih tersisa aku lari secepat mungkin agar tepat waktu, tapi sebelum sampai dipintu keberangkatan
Brukk.. aku bertabrakan dengan seseorang
“aww!! Kalau jalan pakai mata dong!” teriakku
“maaf aku gak sengaja” katanya sambil megulurkan tangannya

Tanpa menjawab perkataan laki-laki tersebut aku bangun dengan bantuannya.
“ehemm.. maaf.” Deheman laki-laki itu yang sukses membuyarkan lamunanku.
Sumpah aku malu banget ketahuan deh lagi memperhatikan laki-laki itu. Aku menjawab maaf darinya dan langsung masuk. Tampak samar-samar laki-laki itu memangil-mangilku, tapi bodo amat lah udah malu juga.
“hai !! bukumu...” teriak si laki-laki.
Setelah teriakannya tak mendapat respon akhirnya membolak-balikan buku itu.
“ Raina, nama yang cantik seperti orangnya, suatu saat kita akan bertemu kembali, tunggu saja.”gumamnya penuh keyakinan
            Setelah menempuh perjalanan udara selama 2 jam akhirnya aku sampai di bandara. Selama di jogja aku akan tinggal dengan pakde.
            Hari-hari selama di Jogya aku lewati dengan belajar dan belajar karena aku akan membuktikan pada ayah kalu aku bisa berubah dan menjadi anak yang membanggakan.
            Hingga aku bertemu dengan seseorang yang mengubah hidupku yang dulunya membosankan. Yaitu Revan Pradipta, laki-laki itu yang dulu bertabrakan denganku di bandara.
            Pertemuan keduaku dengan Revan.
“ kamu Raina kan?” tanya seorang laki-laki
“iya, maaf tapi anda siapa?” jawabku
“aku Revan, masih ingat gak? Dulu kita pernah bertabrakan di bandara.” Revan coba mengingatkanku
“ah, aku ingat, maaf waktu itu. Tapi tunggu kenapa kamutau namaku?” tanyaku
“ini bukumu kan? Waktu itu kamu meninggalkan ini.” Sambil menyerahkan bukuku
“ah iya, pantesan dicari gak ada. Terima kasih.” Ucapku sambil tersenyum
“sama-sama.” Ucapnya

            Setelah pertemuan keduaku dengan Revan, kita tambah dekat tak jarang juga Revan mengantarkan aku ke kampus. Hingga suatu hari Revan menyatkan cintanya padaku, betapa bahagianya karena aku juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
            Hubunganku dengan Revan layaknya sepasang kekasih pada umumnya yaitu jalan-jalan ke mall, nonton, makan,dll. Hingga suatu hari ayah mendengar kalau aku memiliki teman spesial dengan laki-laki. Diam-diam ayah menyelidiki Revan, mulai dari asal-usul, pekerjaan, pendidikan dll. Karena ayah tak mau anaknya memilii hubungan dengan orag yang tidak benar.
            Hingga sebuah fakta yang cukup mengejutkan dan mengubah hidupku yang tak pernah terbayangkan olehku akan terjadi. Revan kakak kandungku, awalnya aku tak percaya yang dikatakan oleh ayah, namun bukti yang dibawa oleh ayah cukup meyakinkan.
            Kenapa bisa terjadi, ceritanya 20 tahun yang lalu. Ayah pernah cerita kalau waktu aku umur 1 tahun aku memiliki seorang kakak laki-laki. Dia hilang di Stasuin ketika kami mau berkunjung ke rumah nenek. Ayah sudah mecarinya bahkan polisi dan anak buah ayahpun sudah ayah kerahkan.namun hasilnya nihil. Selama ini Revan kecil diasuh oleh keluarga kecil yang tak memiliki anak. Fakta itu membuat aku frustasi.
            Akhirnya ku memutuskan pergi ke Belanda untuk melanjutkan kuliahku dan berharap dapat melupakan perasaanku kepada Revan, dan pulang sebagai adiknya.
            Ditempat lain Revan juga berusaha melupakan perasaannya dengan cara menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja, ayah juga sebenarnya kasihan namun gimana lagi persaan itu tak boleh ada, karena aku dan Revan memiliki darah yang sama.
            Setelah perasaanku sudah membaik ku putuskan untuk kembali lagi ke Indonesia, aku mengetahui kalau Revan sudah bertunangan dengan anak teman ayah, aku mendengar itu aku bahagia. Semoga dengan semua ini kami sama-sama belajar untuk tidak melawan takdir yang sudah ditentukan oleh tuhan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar