Cinta Berakhir diTakdir
Kurebah tubuh diatas kasur yang telah lama aku tinggali,
aku melirik jam dinding bunga-bunga tepat dihadapan, pikirannya melayang,
mengingat berapa lama dia meninggalkan
kamarnya ini, ku lirik dinding tertempel sebuah figura yang menampilkan seorang
gadis dan laki-laki saling merangkul , mereka tersenyum betapa
bahagianya saat itu. Namun sekarang senyum tersebut membuka luka lama
yang sempat tersimpan rapi. Dan anganku melayang peristiwa 2 tahun yang lalu.
2 tahun sebelumnya
Namaku
Raina Anastasya Wijaya hidupku serba kecukupan, dengan fasilitas yang super
mewah. Kini berbanding terbalik karena semua fasilitas dan keperluanku dibatasi
oleh ayahku yaitu Rendi Abimanyu Wijaya. Ayah bilang selama ini hidupku untuk bersenang-senang tidak memikirkan masa depan.
Ayah
mengatakan akan mengembalikan semua fasilitasku setelah aku menyelesaikan
kuliah dan hidup mandiri. Dari semua tindakan ayah yang lebih membuatku kesal
yaitu ayah mengirimku ke Jogyakarta untk melanjutkan kuliahku, dengan harapan
aku bisa hidup mandiri tidak mengandalkan kekayaan orang tua.
Aku
berlari karena pesawat yang akan membawaku ke yogja 10 menit lagi akan take
off.
“ah, gara-gara semalam masih debat
dengan ayah, jadi telat nih” teriakku sambil menyeret koper
Dengan tenaga yang masih tersisa aku
lari secepat mungkin agar tepat waktu, tapi sebelum sampai dipintu
keberangkatan
Brukk.. aku bertabrakan dengan seseorang
“aww!! Kalau jalan pakai mata dong!”
teriakku
“maaf aku gak sengaja” katanya sambil
megulurkan tangannya
Tanpa menjawab perkataan laki-laki
tersebut aku bangun dengan bantuannya.
“ehemm.. maaf.” Deheman laki-laki itu
yang sukses membuyarkan lamunanku.
Sumpah aku malu banget ketahuan deh lagi
memperhatikan laki-laki itu. Aku menjawab maaf darinya dan langsung masuk.
Tampak samar-samar laki-laki itu memangil-mangilku, tapi bodo amat lah udah
malu juga.
“hai !! bukumu...” teriak si laki-laki.
Setelah teriakannya tak mendapat respon
akhirnya membolak-balikan buku itu.
“ Raina, nama yang cantik seperti
orangnya, suatu saat kita akan bertemu kembali, tunggu saja.”gumamnya penuh
keyakinan
Setelah
menempuh perjalanan udara selama 2 jam akhirnya aku sampai di bandara. Selama
di jogja aku akan tinggal dengan pakde.
Hari-hari
selama di Jogya aku lewati dengan belajar dan belajar karena aku akan
membuktikan pada ayah kalu aku bisa berubah dan menjadi anak yang membanggakan.
Hingga
aku bertemu dengan seseorang yang mengubah hidupku yang dulunya membosankan.
Yaitu Revan Pradipta, laki-laki itu yang dulu bertabrakan denganku di bandara.
Pertemuan
keduaku dengan Revan.
“ kamu Raina kan?” tanya seorang
laki-laki
“iya, maaf tapi anda siapa?” jawabku
“aku Revan, masih ingat gak? Dulu kita
pernah bertabrakan di bandara.” Revan coba mengingatkanku
“ah, aku ingat, maaf waktu itu. Tapi
tunggu kenapa kamutau namaku?” tanyaku
“ini bukumu kan? Waktu itu kamu
meninggalkan ini.” Sambil menyerahkan bukuku
“ah iya, pantesan dicari gak ada. Terima
kasih.” Ucapku sambil tersenyum
“sama-sama.” Ucapnya
Setelah
pertemuan keduaku dengan Revan, kita tambah dekat tak jarang juga Revan
mengantarkan aku ke kampus. Hingga suatu hari Revan menyatkan cintanya padaku,
betapa bahagianya karena aku juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
Hubunganku
dengan Revan layaknya sepasang kekasih pada umumnya yaitu jalan-jalan ke mall,
nonton, makan,dll. Hingga suatu hari ayah mendengar kalau aku memiliki teman
spesial dengan laki-laki. Diam-diam ayah menyelidiki Revan, mulai dari
asal-usul, pekerjaan, pendidikan dll. Karena ayah tak mau anaknya memilii
hubungan dengan orag yang tidak benar.
Hingga
sebuah fakta yang cukup mengejutkan dan mengubah hidupku yang tak pernah
terbayangkan olehku akan terjadi. Revan kakak kandungku, awalnya aku tak percaya
yang dikatakan oleh ayah, namun bukti yang dibawa oleh ayah cukup meyakinkan.
Kenapa
bisa terjadi, ceritanya 20 tahun yang lalu. Ayah pernah cerita kalau waktu aku
umur 1 tahun aku memiliki seorang kakak laki-laki. Dia hilang di Stasuin ketika
kami mau berkunjung ke rumah nenek. Ayah sudah mecarinya bahkan polisi dan anak
buah ayahpun sudah ayah kerahkan.namun hasilnya nihil. Selama ini Revan kecil
diasuh oleh keluarga kecil yang tak memiliki anak. Fakta itu membuat aku
frustasi.
Akhirnya
ku memutuskan pergi ke Belanda untuk melanjutkan kuliahku dan berharap dapat
melupakan perasaanku kepada Revan, dan pulang sebagai adiknya.
Ditempat
lain Revan juga berusaha melupakan perasaannya dengan cara menghabiskan
waktunya untuk bekerja dan bekerja, ayah juga sebenarnya kasihan namun gimana
lagi persaan itu tak boleh ada, karena aku dan Revan memiliki darah yang sama.
Setelah
perasaanku sudah membaik ku putuskan untuk kembali lagi ke Indonesia, aku
mengetahui kalau Revan sudah bertunangan dengan anak teman ayah, aku mendengar
itu aku bahagia. Semoga dengan semua ini kami sama-sama belajar untuk tidak
melawan takdir yang sudah ditentukan oleh tuhan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar